Walaupun nanti ada vaksin, warga perlu tetap jalankan protokol kesehatan

Walaupun nanti ada vaksin, warga perlu tetap jalankan protokol kesehatan

Vaksin ada limitasinya  enam bulan sampai dua tahun…

Jakarta (ANTARA) – Ketua Pelaksana Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Erick Thohir meminta pada masyarakat untuk tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan meski nanti  tersedia vaksin COVID-19.

“Vaksin ada limitasinya  enam bulan sampai perut tahun, berarti setelah diimunisasi ataupun divaksinasi bukan berarti sehat selama-lamanya, tidak terkena selama-lamanya, karena itu protokol COVID-19 harus terus dijalankan. Memang melelahkan, tapi ini menjadi bagian kehidupan baru, ” perkataan Erick Thohir di Jakarta, Kamis.

Erick mengatakan negeri menargetkan dapat memberikan vaksin COVID-19 kepada sekitar 70 persen warga Indonesia secara massal pada 2021.
Baca juga: Menristek: Perusahaan swasta persiapkan muncul produksi vaksin COVID-19

“Kita dengan penduduk 230 juta baru memfokuskan untuk dapatkan 70 persen, ” katanya.

Jumlah itu, tinggi dia, mengecualikan penduduk dengan piawai 18 tahun karena belum tersedia uji klinis.

“Memang secara vaksin belum uji jika, tapi juga daya tahan awak masih sangat bagus. Tapi bukan berarti nanti generasi muda dikorbankan, ini nanti ada yang melintir generasi muda dikorbankan, ” ucap Erick.
Menyuarakan juga: Erick Thohir: 1, 5 juta tenaga medis harus sanggup vaksin duluan

Ia menyampaikan sebanyak 1, 5 juta tenaga medis menjadi prioritas penerima vaksin COVID-19.

“1, 5 juta ini harus dipastikan dapat vaksin duluan karena mereka yang terdepan mengabulkan imunisasi atau vaksinasi massal, ” ujarnya.

Erick Thohir yang juga menjabat sebagai Gajah BUMN mengatakan, BUMN farmasi Nusantara telah melakukan kerja sama secara sejumlah perusahaan internasional, seperti Sinovac dari China dan perusahaan asal Uni Emirat Arab (UEA), G42 untuk mengembangkan vaksin.

Di sisi lain, lanjut dia, Indonesia juga berupaya mengembangkan vaksin merah putih.

“Kami dari BUMN sangat agresif cari solusi, baik dengan Balitbangkes, Eijkman. Saat bersamaan, kami buka hubungan dengan banyak pihak dari Eropa, AS, WHO, Uni Emirat Arab, China hingga negara tetangga. Saya buka karena vaksin ini penting, ” ucap Erick.

Baca juga: Erick berharap anggota Kadin laksanakan vaksin COVID-19 mandiri
Baca juga: Pengkaji Indef perkirakan pemerintah butuh Rp75 triliun untuk vaksin

Pewarta: Zubi Mahrofi
Editor: M Razi Rahman
COPYRIGHT © ANTARA 2020